|
Perjalanan James Cook, yang melakukan tiga ekspedisi antara tahun 1768 dan 1779/80, telah menandai berakhirnya sebuah era dan dimulainya era baru. Perjalanan itu menandakan dimulainya era "Ethnography", namun demikian diperlukan satu abad penuh yaitu abad 19 untuk menjadikan "Anthropology" menjadi sebuah ilmu akademi. Swiss sebagai negara kecil yang saat ini "hanya" berpenduduk sekitar 7, 9 juta jiwa itu, sejak lama telah memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk dapat juga berpegian melakukan ekpedisi dengan tujuan mempelajari budaya dan kehidupan bangsa lain.
Ada empat ekspedisi Swiss yang terkenal dan dilakukan pada akhir abad sembilan belas sampai dengan pertengahan abad 20, salah satunya yang dilakukan oleh Alfred Bühler yang melakukan ekpedisi ke Indonesia melalui Batavia (Jakarta) menuju, Nusa Tenggara Timur, Flores, Pulau Rote/Roti dan juga sampai ke Timor Leste. Dari perjalanannya ini Alfred membawa pulang sekitar 3500 objek dan 2700 photographs, sekitar 200 an objek di pamerkan di Museum der Kulturen Basel yang pembukaannya pada Kamis (28/6) dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein serta dibuka secara resmi oleh Presiden Kanton Basel-City, Guy Morin. Pameran yang dilakukan dalam jangka waktu panjang itu juga menghadirkan barang-barang dari hasil ekpedisi lainnya dengan tujuan Srilanka (Ceylon), Vanuatu, serta Afrika, Kamerun dan Afrika Selatan. Menurut Richard Kunz, Kurator dengan spesialisasi Asia Tenggara, Museum der Kulturel Basel, yang sangat lancar berbahasa Indonesia, merasa bangga bahwa pada pameran itu dia dapat menampilkan tehnik-tehnik menenun dan pewarnaan natural yang telah dimilikiki oleh penduduk Flores yang juga berdasarkan pengalamannya selama ini paling banyak dilihat oleh para pengunjung yang berasal bukan saja dari kota Basel dan kota kota lainnya di Swiss, bahkan banyak pula pengunjung yang khusus datang dari Perancis dan Jerman, mengingat letak kota basel yang berbatasan dengan kedua negara itu. Dr. Anna Schmid, Direktur Museum, dalam sambutannya menekannya bahwa pameran ini diadakan bukan untuk memamerkan kekuatan bangsa Eropa yang telah melakukan ekpedisi pada era abad 19, namun lebih menekankan pada memperkenalkan budaya bangsa lain yang sebenarnya telah mempunyai tingkat peradaban yang tinggi dan ini terlihar dari objek-objek yang dipamerkan. Duta Besar RI Djoko Susilo juga merasa kagum pada saat memasuki sebuah ruangan khusus dimana dipajang "Waruga" sebuah pusara tahun 1899, dari minahasa, dan sebuah alat musik "Sasando" daerah berasal dari Kupang dan Pulai Rote. Pameran untuk umum ini, dibuka bertepatan dengan liburan musim panas sekolah-sekolah di Swiss sehingga museum yang baru saja selesai direnovasi ini kelihatan penuh, mengingat museum di swiss juga menjadi tempat pembelajaran bagi murid-murid sekolah sebagai pembelajaran budaya bangsa lain dengan mengamati objek-objek yang dipamerkan. |