|
Sepuluh seniman Indonesia: Melati Suryadarma, Jumaldi Alfi, Fauzie As'Ad,Heri Dono, Edi Prabandobo, Angki Purbandono, S. Teddy, Budi Ubrux, Ugo untoro dan Entang Wiharso memamerkan hasil karya seni kontemporernya disebuah gedung pameran barang seni di Liechtenstein dari tanggal 15 Juni s/d 15 Agustus 2012, sedangkan Jim Supangkat tampil sebagai kurator.
Bermula dari tawaran pemerintah Keharyapatihan Liechtenstein, sebuah negara kerajaan kecil yang berada diantara Swiss dan Austria kepada Fauzie As'ad, seorang seniman Indonesia yang bermukim di Vaduz, Ibukota Liechtenstein untuk memamerkan karya seninya di Kunstraum Englanderbau sebuah tempat pameran karya seni yang sebenarnya diperuntukan bagi seniman negara kecil itu atau seniman negara negara sekitarnya pada sekitar dua tahun lalu. Namun kesempatan emas itu tidak serta merta diterima Fauzie, ia malah mempunyai ide untuk mengajak seniman Indonesia lainnya khususnya yang datang dari Yogyakarta, untuk dapat pula memamerkan karya seni mereka ditempat itu. Setelah sekian lama akhirnya Direksi pengelola Kunstraum Englanderbaum menyetujui ide Fauzie dengan catatan harus dicarikan bantuan lain dari pihak lain yang dapat meringankan beban pembiayaan.
Merasa sudah mendapatkan lampu hijau, Fauzie pun segera mengontak KBRI Bern untuk memohon bantuan mencarikan pihak pihak yang tertarik untuk ikut berpartisipasi membantu seniman Indonesia agar dapat memperlihatkan hasil karya mereka di negara yang luasnya tidak lebih besar dari sebuah kecamatan di Jakarta, namun mempunyai peran ekonomi yang cukup besar di Eropa. Akhirnya KBRI Bern dapat mengandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perdagangan RI serta beberapa pihak swasta dan pihak perorangan lainnya untuk ikut membantu sehingga berhasil terselenggaranya pameran ini. Dalam sambutan pada acara pembukaan yang dilangsungkan pada Jumat (15/6) di Kunstraum Englanderbaum, Duta Besar RI untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, berharap bahwa pameran ini dapat dijadikan sebagai jalan pembuka bagi kerjasama dibidang lainnya yang dapat meningkatkan hubungan diplomatik, perdagangan, investasi dan wisata kedua negara yang sudah berjalan dengan baik selama ini. Sementara itu Mrs. Kirstin Apple-Houston, assisten Menteri Kebudayaan Liechtenstein mengingatkan kepada sekitar 100 undangan yang hadir dalam pembukaan itu, bahwa setiap kegiatan yang dilakukan atas inspirasi KBRI Bern dan Fauzie As'Ad selalu menjadi pendobrak dan dicontoh oleh negara-negara lainya dalam mengadakan kegiatan bersama antara Pemerintah Liechtenstein dan negara-negara sabatnya. Ditambahkan lagi bahwa ia mengingatkan bahwa kegiatan ini bukan pertama kali yang dilakukan antara Indonesia dan Liechtenstein dan yakin bukan merupakan yang terakhir! Banyak hal yang dapat dilakukan oleh negara kepulauan ternesar didunia yang mempunyai penduduk lebih dari dua ratus juta jiwa itu dengan dengan terrkecil didunia namun mempunya peran ekonomi yang besar di Eropa sebagai pusat perbankan dunia. Jim Supangkat sagai kurator pameran ini menjelaskan tentang definisi kata "Seni" / Art, yang dalam bahasa Indonesia nilai seni dimengerti sebagai nilai metaphysical condition, kondisi mental yang dapat menangkap berbagai macam ekpresi yang terkandung didalam karya seni dan sumber kretivitas. Acara pameran ini banyak diliput oleh mass media Liechtenstein dan juga Swiss bahkan sebuah stasiun swasta besar dari Jakarta ikut meliput acara yang disambut hangat oleh masyarakat setempat. |