|
Adalah impian dari Lia Fossati pimpinan grup angklung Melati Bern untuk „mengamenkan“ angklung di jalan-jalan utama kota Bern Switzerland. Pada sabtu sore (9/6) 20 orang pemain angklung yang berasal dari latar belakang dan kewarganegaraan yang berbeda tersebut memainkan 4 buah lagu di sekitar Gereja Munster dan Zytglogge. Salah satu lagu andalan kelompok angklung ini yaitu Manuk Dadali benar-benar membuat penonton terkesima, dan para pemain angklung terpaksa memainkan ekstra lagu tambahan lagi sesuai permintaan.
Lagu lain yang dimainkan adalah berasal dari tanah batak Alu Siau, dan lagu berbahasa Perancis dan Jerman dimana salah satunya mengiringi nyanyian yang dibawakan oleh Irina Grischkova. Melati Bern, yang beranggotakan Jens, ANnie, Mahir Pradana, Irina Grischkova, Chloe, Sri Wahyuni, Ochid Nahdi, Arpan Ramadhani, Pesche, Mo, Melissa Moningka, Novembrina, Maria Nikijuluw, Abraham Wirutomo, David Schneiter, Lia dan Luigi Fossati berlatih angklung secara serius setiap hari Rabu malam. Permainan angklung pada sore itu benar-benar tepat sasaran, penonton bukan saja menikmati permainan yang dibawakan namun juga mencermati serta mengagumi kreativitas seni bangsa Indonesia terhadap angklung alat musik sederhana namun mampu menghasilkan nada-nada khas yang indah. Lain padang lain belalang, lain rumput lain ikannya, di negara ini pengamen jalanan harus memiliki izin resmi dari instansi yang berwenang. Pemohon harus mendaftar jauh-jauh hari dari kepolisian yang nantinya akan memberikan otorisasi waktu dan tempat yang diizinkan untuk menampilkan pertunjukan jalanan ini. Selain kelompok angklung Melati Bern, di Swiss juga terdapat kelompok angklung padasuka di kota Zurich dibawah pimpinan Andreas Diriwachter. Padasuka, yang anggotanya sebagian besar adalah warga senior ini, berlatih secara serius setiap kamis malam. Padasuka menguasai hampir semua lagu Indonesia, mulai lagu daerah hingga lagu-lagu patriotik. Tidak jarang angklung dimainkan bersama dengan Alphorn alat musik tradisional Swiss.
Baik Lia Fossati maupun Andreas Diriwachter menyetujui bahwa semua orang dapat memainkan angklung sepanjang menguasai notasi, namun tidak semua dapat memaknainya, karenanya, pemain angklung wajib merasakan nyawa dari setiap lagu yang dibawakan. |